ORANG SUKSES...

ORANG ORANG YANG SUKSES TELAH BELAJAR MEMBUAT DIRI MEREKA MELAKUKAN HAL YANG HARUS DIKERJAKAN. MULAILAH SEKARANG....

Smoga Allah subhanahu wata'ala selalu merahmati hambanya yang berserah diri dan berikhtiar.

Rabu, 29 Desember 2010

Konsep Design Rumah Islam ; Alternatif

Konsep Design Rumah dalam Peradaban Islam

20 10 2008
i
Rate This
Quantcast


Konsep Design Rumah dalam Peradaban Islam
oleh Ardy Arsyad, ST, M.Eng. Sc

Rasulullah SAW dalam sebuah hadist mengungkapkan bahwa ada empat hal yang membuat manusia bahagia. Pertama adalah istri yang shalihah, kedua, rumah yang luas, kendaraan yang nyaman, dan keempat tetangga yang baik. Rumah dalam arti bangunan yang didiami sebagai basis melakukan aktifitas adalah salah satu wahana untuk membentuk masyarkat dan peradaban Islam. Di tanah air, beberapa konsep desain diterapkan oleh masyarakat mulai dari konsep rumah susun, rumah sangat sederhana, rumah dengan tipe sesuai ukuran luas, hingga rumah mewah bergaya mediteranian, atau romawi. Lalu bagaimanakan dengan desain rumah yang sesuai dengan nilai-nilai Islam? Di harian Republika terbitan Jakarta, ada seorang pembaca menanyakan kepada pengasuh rubric Arsitektur tentang bagaimanakah rumah yang islami itu. Arsitek tersebut memberikan jawaban bahwa rumah yang islami bukan hanya rumah yang didalamnya dihiasi oleh kaligrafi, bukan pula yang didalamnya dilengkapi dengan mushala, tetapi juga rumah yang bisa berhubungan dengan baik dengan tetangga dan lingkungan sekitar. Penjelasan ini sungguh belum memuaskan karena tidak secara lengkap memberikan gambaran tentang rumah yang islami atau yang pernah dibangun dalam peradaban Islam. Dalam Understanding Islamic Architecture, Haider (2002) mengemukakan bahwa Arsitektur dapat dikatakan islami jika melingkupi empat hal. Pertama, kosmologi arsitektur tersebut mengandung nilai bahwa alam dan manusia mempunyai missi untuk menyembah Allah SWT. Manusia dianggap sebagai makhluk yang berakal dan berkemauan bebas namun bertanggung jawab kepada sesama, alam dan alam dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Kedua, Arsitektur yang merepresentasi nilai-nilai sejarah dan missi islam yang terlihat dari dinasti-dinasti islam, politik dan kota-kota Islam. Ketiga, Arsitektur yang menghormati konsep halal-haram sebagaiman yang terdapat dalam hukum islam. Keempat, arsitektur yang melambangkan spiritualitas seperti penggunaan hiasan kaligrafi dan arabesques. Rehman (2002) dalam the Grand tradition of Islamic Architecture menjelaskan bahwa aristektur yang islam adalah arsitektur yang berlandaskan Qur’an dan Hadist Rasulullah SAW. Bangunan arsitektur tersebut harus sesuai dengan nilai-nilai:

Pertama adalah tauhid dan risalah. Bangunan didirikan tidak ada didalamnya unsur syirik dalam pembuatannya, desain dan ornament di dalamnya (termasuk didalamnya penggunaan patung). Bangunan itu tidak dibuat dengan mengotori atau merusak alam, binatang dan tumbuhan. Oleh karena itu, hiasan dan ornament interior dalam aristektur Islam banyak menggunakan motif tumbuhan (arabesques), kaligrafi dan geometri.

Kedua, Qur’an memberikan kesadaran akan lingkungan dan realitas lingkungan. Diantaranya adalah struktur matematika dalam Qu’ran yang menghubungkan intelektual dan spiritual Islam dan Matematika sebagaimana yang terkandung dalam struktur dari Qur’an sendiri dan symbol-simbol numeric dari huruf dan kata. Oleh karena itu, seni arsitektur Islam berkembang dalam konsep geometri, astronomi dan metafisik. Konsep ini dapat dilihat di QS 3:191

Ketiga, Konsep Desain berbasis geometri murni. Bangunan memiliki “badan” yang didesain dengan konsep geometri. Adapun jiwanya dapat didesain dengan memodifikasi pengcahayaan, ventilasi, efek suara, landskap, warna, teksture, dan interior dan eksterior. Konsep ini bisa dilihat dari rumah-rumah, masjid, makam, atau tamam.

Empat, konsep syurga di Bumi. Dalam QS 2:82 dan 55:46-47, Allah SWT mendeskripsikan taman-taman Syurga. Arsitektur Islam sangat dipengaruhi dengan konsep taman dan courtyard sehingga landskap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bangunan.

Kelima, konsep cahaya. Cahaya sebagai symbol spiritualitas dikenal dalam dunia sufi. Arsitektur Islam mendesain pengcahayaan, bayang-bayang, panas dan dingin dari angin, air beserta efek pendinginnya, dan tanah. Tujuannya adalah agar komponen insulating ini harmonis dengan alam. Konsep dan nilai tersebut diatas merupakan framework dalam mendesain rumah yang memiliki nilai-nilai Islam dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Bagaimana bentuk dan ukuran Rumah dalam peradaban Islam itu. Campo (1991) mencatat bahwa Rasulullah SAW membangun rumah ketika pertama kali tiba di Madinah sehabis hijrah. Diantara banyaknya penawaran, Rasulullah SAW menerima permintaan sebuah keluarga dari Bani Najjar yang memberikan tanah untuk ditinggali. Tanah ini dulunya adalah tempat mengeringkan korma dan kuburan orang-orang musyrik. Rasulullah SAW menyetujui dengan syarat tanah ini diratakan dan kuburan dipindahkan. Hal Ini memiliki arti bahwa tidak dibenarkan dalam Islam, adanya kuburan dalam rumah. Dalam segi konstruksi, rumah Rasulullah dibangun dari batu bata yang terbuat dari campuran tanah liat dengan serat gandum atau barley dan dikeringkan dengan panas matahari. Rumah Rasulullah berdinding bata, dilengkapi courtyard yang luas (open space di dalam bangunan), dan memiliki entrance di bagian utara dan selatan. Rumah dengan konsep house-mosque tersebut memiliki tiga pintu. Ketika kiblat diubah dari Jerussalem ke Makkah, pintu selatan ditutup dan dijadikan dinding untuk arah kiblat. Kamar-kamar rumah Rasulullah beratap pelepah kurma dengan luas tiap kamar sekitar 23 m2 dan tinggi plafon 2,7 – 3,6 meter. Kamar-kamar bertambah dari 1- 9 sesuai jumlah istri-istri Rasulullah. Ada kebiasan di zaman Rasulullah, bahwa jika hendak membangun pondasi rumah, maka para sahabat baik kaum Muhajirin dan Anshar diundang untuk bekerja bersama. Campo (1991) juga mengungkapkan bahwa ukuran rumah di Mesir pada era Fatimiyah di abad ke-10 dan 11 M, cukup besar bagi sebuah keluarga terdiri dari seorang suami, istri dan anak. Ukuran rumah mengakomodasi keluarga inti dan juga dikembangkan jika ada perluasan keluarga (jika anak juga menikah dan berkeluarga). Mereka hidup di dalam satu bangunan atau satu kelompok bangunan dan membentuk neighborhood. Tidak ada pemisahan antara space pria dan wanita ketika era Fatimiyah. Kepemilikan rumah adalah kepemilikan bersama Kadang-kadang keluarga menyewakan atau menjual salah satu bagian rumah untuk menjadi pendapatan tambahan. Faroqhi (2002) menjelaskan bahwa di zaman kekaisaran Ottoman Turki (1590-1700), rumah biasanya terdiri dari bangunan dan courtyard, tidak jarang juga dilengkapi dengan taman. Rumah tersebut memiliki “tabhane” (ruang utama) yang dipakai sebagai tempat meneriman tamu. Karena cukup besar, ruangan ini kadang difungsikan sebagai living room. Selain itu rumah juga memiliki “sofa” (ruang terbuka atau tertutup) untuk hall penghubung antar kamar. Bangunan rumah pada masa itu terdiri dari dua lantai atau satu lantai dengan jumlah kamar 4-5 kamar, 1 courtyard, 2 toilet, kitchen, sofa, ruang mencuci, dan ruang tamu (tabhane). Ukuran kamar biasanya sekitar 5-6 meter panjang, 3-4 meter lebar, dan tinggi 3 meter. Ukuran ini merupakan ukuran standar bagi kebanyakan keluarga. Bagi mereka yang berpenghasilan tinggi, rumah tentu memiliki kamar lebih banyak dan ukuran lebih besar. Bahkan, rumah orang-orang kaya ini terdiri dari bagian-bagian rumah khusus wanita (“harem”) dan “selamlik” khusus untuk tamu pria. Kadang-kadang memiliki 2 bangunan yang terpisah yang dihubungkan dengan courtyard atau sofa lengkap dengan berandah. Faroqhi (1987) mencatat bahwa rumah pada masa itu memiliki ciri khas yang sama yakni courtyard dan taman. Selain itu, patut pula dicatat bahwa bagi yang mempunyai kuda sebagai kendaraan dimasa itu, rumah dilengkapi dengan istal. Secara umum, dapat disimpulkan bahwa konsep rumah dalam peradaban Islam adalah rumah yang mempunyai banyak kamar, dan dilengkapi tabhane, taman, dan courtyard. Hal ini menegaskan bahwa keluarga dalam konsep Islam cenderung besar. Keluarga besar ini tentu membutuhkan privasi yang dapat dipenuhi ketersediaan kamar yang cukup. Kamar-kamar ini juga diperuntukkan bagi orang tua atau sanak family yang datang bersilaturrahim. Selain itu, konsep living room dan hall memberikan penghargaan bagi tamu yang datang, dan juga tempat berkumpulnya anggota keluarga. Sedangkan konsep courtyard di dalam rumah, ini bukan hanya bagus untuk ventilasi dan pengcahayaan, namun juga menjadi arena rekreasional yang memungkinkan anak-anak dan remaja muslimah bermain tanpa harus memakai hijab (dengan privasi), dan menjadi tempat berkontemplasi-bercengkerama dengan alam. Dalam mendesain rumah, Islam juga mengatur mengenai konsep silaturrahim dan konsep ummah, dimana manusia harus menjaga hubungan dengan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu konsep rumah dalam Islam mempunyai space khusus untuk menerima tamu pada hari-hari raya dan untuk acara-acara keluarga. Hanya saja, ada semacam perjanjian tak tertulis bagi tamu dan penghuni rumah (Campo, 1991). Tamu memasuki rumah lewat pintu depan kemudian melalui koridor menuju courtyard bagian dalam. Koridor ini didesain sedemikian agar tidak mengganggu privasi penghuni rumah. Tamu kemudian duduk di verandah yang menghadap ke courtyard. Jika ada acara besar di rumah, tamu diundang ke semacam ruangan disekitar courtyard yang didesain lengkap dengan taman, kolam, dan air mancur yang menciptakan suasana yang nyaman bagi tamu dan tuan rumah. Hanya saja, konsep desain rumah kini mengalami evolusi. Ukuran rumah tidak lagi standar sebagaimana dijelaskan di atas namun mengecil mengikuti tingkat ekonomi keluarga. Bahkan, di kota-kota besar, dengan terbatasnya lahan dan mahalnya biaya membangun rumah, membuat konsep rumah yang Islami menjadi sulit. Dalam lingkungan seperti ini privasi menjadi hal yang sulit terpenuhi apalagi jika jumlah anggota keluarga cukup banyak. Tingkat stress menjadi sangat tinggi. Selain itu, ada kecenderungan bahwa rumah sekarang menjadikan penghuninya semakin individualis dan asosial. Hal ini ditandai dengan makin kecil dan simplenya ruang tamu dan penggunaan pagar yang tinggi dengan alasan keamaan.Adalah menjadi tantangan bagi kaum terpelajar dan menengah muslim untuk hidup dalam lingkungan yang Islami termasuk memiliki rumah yang menjamin privasi, kenyamanan sekaligus bisa menjadi wahana bersilaturrahim dengan lingkungan sekitar. Lingkungan yang Islami akan modal bagi pembentuk masyarakat Islam demi terwujudnya peradaban dan kejayaan Islam. Wallahu A’lam Bisshawab.

Makalah ini sempat dibawakan dalam pengajian dwi mingguan MIIAS di Adelaide Mei 2007

Reference:

Campo, J. E. (1991) The Other Side of Paradise, University of South Carolina Press, South Carolina.Faroqhi, S. (2002) Men of Modest Substance, Cambrigde University Press, New York.

Haider, S. G. (2002) On What Makes Architecture Islamic : Some Reflections and a Proposal, RoutledgeCurzon, London.

Rehman, A. (2002) The Grand Tradition of Islamic Architecture, RoutledgeCurzon, London.

Sumber: http://daenggassing.wordpress.com

Jumat, 24 Desember 2010

PEMUDA PEMUDI ...MAU KAYA SUSAH?

Mencari Rizki yang Halal di Tengah Krisis Ekonomi & Keterpurukan Moral


“Sedikit tapi cukup lebih baik daripada banyak tapi tak pernah merasa cukup”. Jika dikaitkan dengan masa yang “serba sulit” ini, ungkapan bijak di atas memang terasa relevan. Maklumlah, banyak dari kita yang kurang mensyukuri rizki yang diberikan Allah, malah justru kerap berkeluh kesah. Parahnya, jalan pintaslah yang kemudian ditempuh untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Kehidupan Dunia dan Segala Tantangannya
Kehidupan dunia merupakan medan tempaan dan ujian (darul ibtila`). Siapapun yang menjalaninya pasti akan merasakan tempaan dan ujian tersebut. Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala Dzat Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana menghendakinya. Sebagaimana dalam firman-Nya l:

ألم. أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُوْلُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ

“Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira untuk dibiarkan berkata: ‘Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diberi ujian?” (Al-’Ankabut: 1-2)
Tempaan dan ujian itu sendiri beragam bentuknya. Adakalanya dalam bentuk ketakutan, terkadang pula dalam bentuk kelaparan, kekurangan harta (kemiskinan), kekurangan jiwa (ditinggal wafat orang-orang yang dicintai), dan kekurangan buah-buahan (bahan makanan). Ini semua mengingatkan kita akan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ

“Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepada kalian, dalam bentuk sedikit dari ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar.” (Al-Baqarah: 155)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan (dalam ayat ini, pen.) bahwasanya Dia akan memberikan aneka macam ujian kepada para hamba-Nya, agar nampak jelas (di antara para hamba tersebut) siapakah yang jujur (dalam keimanannya) dan siapa pula yang berdusta, siapakah yang selalu berkeluh-kesah dan siapa pula yang bersabar. Demikianlah sunnatullah. Karena, manakala keadaan suka semata yang selalu mengiringi orang yang beriman tanpa adanya tempaan dan ujian, maka akan muncul ketidakjelasan (militansinya, pen.). Dan ini tentunya bukanlah suatu hal yang positif. Sementara hikmah Allah menghendaki adanya sinyal pembeda antara orang-orang yang baik (ahlul khair) dan orang-orang yang jahat (ahlusy syar). Itulah fungsi dari tempaan dan ujian, bukan dalam rangka melenyapkan keimanan orang-orang yang beriman dan bukan pula untuk menjadikan mereka murtad. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-yiakan keimanan para hamba-Nya yang beriman.” (Taisirul Karimirrahman, hal.58)
Para pembaca yang mulia, siapakah orang yang sukses di kala tempaan dan ujian menghampirinya? Orang yang sukses adalah orang yang bersabar di kala tempaan dan ujian itu menghampirinya. Hatinya tabah dan ridha dengan segala yang Allah Subhanahu wa Ta’ala taqdirkan. Keimanannya pun tak menjadi surut karenanya. Sementara lisannya jauh dari keluh-kesah, bahkan bibirnya senantiasa dibasahi oleh lantunan:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

“Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nya kami dikembalikan.” Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ. الَّذِيْنَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

“Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. (Yaitu) orangorang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa innaa ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nya kami dikembalikan)’.” (Al-Baqarah: 155-156)
Tahukah anda, pahala apakah yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan kepada orang-orang yang bersabar itu? Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini:

أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

“Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan barakah yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, pen).” (Al-Baqarah: 157)
Para pembaca yang mulia, mutiaramutiara hikmah yang terkandung dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas merupakan prinsip utama bagi seorang muslim yang mendambakan ridha Ilahi, baik di dunia maupun di akhirat. Sehingga, sudah seyogyanya bagi kita semua untuk senantiasa bersabar manakala ditempa ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta berhatihati dalam menjalani kehidupan dunia ini. Termasuk di dalam mencari rizki yang halal di tengah krisis ekonomi dan keterpurukan moral, yang merupakan salah satu tonggak keberkahan hidup yang sedang kita jalani ini. Nas`alullahas salamata wal ‘afiyah (Kita memohon keselamatan dan kesehatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala).

Menyoroti Sebuah Fenomena
Para pembaca yang mulia, setelah kita mengetahui bahwa kehidupan dunia ini adalah medan tempaan dan ujian (darul ibtila`), marilah kita merenung sejenak menyoroti fenomena hiruk pikuknya umat manusia dalam mencari rizki dan mata pencahariannya, khususnya di tengah krisis ekonomi dan keterpurukan moral dewasa ini. Agar kiranya menjadi bahan evaluasi dan koreksi diri; apakah kita termasuk orang-orang yang bersabar dan berhati-hati dalam menjalani kehidupan dunia ini, ataukah justru sebaliknya?
Cobalah anda perhatikan, bukankah di tengah hiruk pikuk itu ada beraneka macam orang? Di antara mereka ada yang berpandangan bahwasanya ‘time is money’ (waktu adalah uang). Ambisinya untuk menumpuk harta pun amat besar, sehingga segenap waktu dan umurnya hanya dipergunakan untuk mengais rizki. Sungguh benar apa yang diberitakan Baginda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثََالِثًا، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ، وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Kalaulah anak Adam (manusia) telah memiliki dua lembah dari harta, niscaya dia masih berambisi untuk mendapatkan yang ketiga. Padahal (ketika ia berada di liang kubur) tidak lain yang memenuhi perutnya adalah tanah, dan Allah Maha Mengampuni orang-orang yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 6436, dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Tak ayal bila aktivitasnya itu kemudian melalaikannya dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala (dzikrullah), shalat lima waktu maupun kewajiban lainnya. Lebih miris lagi, manakala semua itu dilaluinya tanpa beban sedikitpun dan tanpa ada perasaan takut sama sekali akan adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidakkah mereka ingat akan ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ اْلأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang serta dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat dari perbuatan mereka itu).” (Al-Hijr: 3)
Di antara hiruk pikuk itu pun ada orang-orang yang gelap mata dan buta hati dalam mencari rizki. Mereka tak lagi memerhatikan mana yang halal dan mana yang haram, sehingga nyaris jiwa dan raganya (juga keluarganya) tumbuh dari harta syubhat bahkan dari harta haram. Na’udzu billah min dzalik.
Namun demikian, di antara hiruk pikuk itu, tetap masih ada orang-orang yang konsisten dalam menjaga jati dirinya sebagai insan yang bertakwa. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya:

رِجَالٌ لاَ تُلْهِيْهِمْ تِجَارَةٌ وَلاَ بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَاْلأَبْصَارُ. لِيَجْزِيَهُمُ اللهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيْدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Orang-orang dari kaum lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) jual beli dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi bergoncang (yakni hari kiamat). (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (An-Nur: 37-38)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang tidak dilalaikan dunia dan segala perhiasannya, dan (tidak dilalaikan pula) oleh manisnya perniagaan serta segala labanya, dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala sang Pencipta dan Pemberi rizki mereka. Sebagaimana pula mereka adalah orangorang yang menyadari bahwasanya apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih mulia dan lebih bermanfaat dari apa yang mereka miliki. Karena (mereka yakin) bahwa apa yang mereka miliki itu pasti sirna, sedangkan apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kekal abadi.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Jenis mata pencaharian itu sendiri memang bermacam-macam. Ada dari jenis yang halal, syubhat, dan ada yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala serta Rasul-Nya. Di antara jenis yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya adalah riba dengan segala bentuknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ. يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيْمٍ. إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ. فَإِنْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوْسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُوْنَ وَلاَ تُظْلَمُوْنَ

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri (ketika dibangkitkan dari kuburnya, pen.) melainkan seperti berdirinya orang yang kerasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, disebabkan mereka (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Allah, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), urusannya (terserah) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni An-Nar; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah. Dan Allah tidak suka terhadap orang yang tetap di atas kekafiran dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, merekalah orang-orang yang mendapat pahala di sisi Rabb mereka. Tiada kekhawatiran pada diri mereka dan tiada (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian benar-benar orang yang beriman. Jika kalian masih keberatan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian. Dan jika kalian bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagi kalian pokok (modal) harta; kalian tidaklah menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Al-Baqarah: 275-279)
Demikian pula memakan harta orang lain dengan cara yang batil, terkhusus dalam arena jual beli. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku di atas asas saling meridhai di antara kalian.” (An-Nisa`: 29)
Tak ketinggalan pula praktik penipuan, yang terkadang lewat jalur hukum, dalam kondisi pelakunya sadar bahwa ia sedang berbuat aniaya terhadap sesamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيْقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِاْلإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kalian dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian mengetahui.” (Al-Baqarah: 188)
Perjudian dengan sekian modelnya pun demikian adanya, menjadi jalan pintas ‘mencari rizki’ yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَاْلأَنْصَابُ وَاْلأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. إِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, serta menghalangi kalian dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan shalat. Maka berhentilah kalian (dari perbuatan itu).” (Al-Ma`idah: 90-91)
Demikian pula mencari rizki dengan cara mencuri, merampok, korupsi, dan sejenisnya. Semua itu diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya ٍShallalalhu ‘alaihi wa sallam. Demikianlah di antara fenomena yang terjadi di tengah hiruk pikuknya kehidupan mencari rizki. Lalu, dari jenis pribadi yang manakah kita? Dan dari jenis yang bagaimanakah hakikat pekerjaan yang kita jalani? Marilah kita mengintrospeksi diri!!

Keharusan Mencari Rizki yang Halal
Para pembaca yang mulia, sesungguhnya mencari rizki yang halal merupakan perbuatan yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana pula mencari rizki dengan cara yang haram merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua itu tentunya demi kebaikan dan keberkahan hidup para hamba-Nya baik di dunia maupun di akhirat. Namun, ketidaksabaran seseorang atas ujian yang menimpanya seringkali menjerumuskannya ke dalam murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam hal mencari rizki misalnya; manakala seseorang merasa sudah maksimal dalam mencari rizki, namun ternyata hasil yang didapat masih belum mencukupi kebutuhannya.
Tak jarang dalam kondisi ‘kepepet’ semacam ini –seiring dengan lemahnya iman– akhirnya ia ikuti langkah-langkah setan yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya mengatakan: “Mencari yang halal itu susah banget!” Lebih ekstrim lagi, terkadang keluar dari mulutnya ucapan: “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal!” Wallahul musta’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memperingatkan mereka dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي اْلأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّبًا وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan; karena setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (Al-Baqarah: 168)
Demikian pula Baginda Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan umatnya tentang seseorang yang tumbuh dan berkembang dari harta yang haram, doanya tak lagi didengar dan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bagaimanakah bila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mau mendengar dan mengabulkan doanya?! Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا. وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ. فَقَالَ: {يَآ أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ}. فَقَالَ: {يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ}. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ! يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik (Suci) tidaklah menerima kecuali sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada para Rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Hai para Rasul, makanlah dari segala sesuatu yang baik dan beramal shalihlah, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan.” (Al-Mukminun: 51). Dia juga berfirman: ‘Hai orang-orang yang beriman makanlah dari segala sesuatu yang baik, yang telah kami rizkikan kepada kalian’.” (Al-Baqarah: 172) Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang seorang laki-laki yang sedang melakukan perjalanan jauh (safar), dalam kondisi rambutnya kusut masai dan tubuhnya dipenuhi debu, lalu menengadahkan tangannya ke langit (seraya) berdoa: ‘Ya Rabbi, ya Rabbi!’ Sementara makanannya dari hasil yang haram, minumannya dari hasil yang haram, pakaiannya pun dari hasil yang haram, dan (badannya) tumbuh berkembang dari hasil yang haram. Maka mana mungkin doanya akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, hadits no. 1015)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu berkata: “Seorang laki-laki (yang disebutkan dalam hadits di atas, pen.) mempunyai empat kriteria: Pertama: Bahwasanya dia sedang melakukan perjalanan (safar) yang jauh, dan safar merupakan salah satu momentum dikabulkannya sebuah doa. Kedua: Rambutnya acak-acakan dan tubuhnya dipenuhi oleh debu…, ini juga merupakan salah satu sebab dikabulkannya sebuah doa. Ketiga: Menengadahkan tangannya ke langit, dan ini pun merupakan salah satu sebab dikabulkannya sebuah doa. Keempat: Dia berdoa dengan menyeru: “Ya Rabbi! Ya Rabbi!, yang merupakan tawassul dengan kekuasaan (rububiyyah) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini pun salah satu sebab dikabulkannya sebuah doa. Namun ternyata doanya tak dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena makanannya dari hasil yang haram, pakaiannya dari hasil yang haram, dan (badannya) pun tumbuh berkembang dari hasil yang haram.” (Diringkas dari Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin)
Subhanallah…betapa besarnya pengaruh makanan, minuman, dan pakaian yang didapat dengan cara haram bagi kehidupan seseorang. Doa dan permohonannya tak lagi didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu, kemanakah dia akan mengadukan berbagai problematikanya?! Dan kepada siapakah dia akan meminta perlindungan dan pertolongan?! Betapa meruginya dia… Betapa sengsaranya dia, manakala Allah Rabb semesta alam ini telah berlepas diri darinya. Adakah yang mau mengambil pelajaran?!
Para pembaca yang mulia, merupakan kewajiban bagi seorang muslim di tengah hiruk pikuknya kehidupan mencari rizki ini, untuk mengimani bahwa rizki itu datangnya dari Allah Dzat Yang Maha Pemberi Rizki (Ar-Razzaq), yang kepunyaan-Nya-lah seluruh perbendaharaan langit dan bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَهُ مَقَالِيْدُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Kepunyaan-Nya lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Asy-Syura: 12)
Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang keluasan kasih sayang-Nya membentangkan segala kemudahan bagi hamba-Nya untuk mencari rizki dan karunia-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

“Dan Kami jadikan siang untuk mencari sumber penghidupan.” (An-Naba`: 11)

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاَةُ فَانْتَشِرُوا فِي اْلأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيْرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Apabila telah ditunaikan shalat (Jum’at), maka bertebaranlah kalian di muka bumi; dan carilah karunia (rizki) Allah, dan ingatlah selalu kepada Allah agar kalian beruntung.” (Al-Jumu’ah: 10)
Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang Maha Menentukan rizki tersebut (dengan segala hikmah dan keilmuan-Nya) atas segenap makhluk-Nya, sesuai dengan bagiannya masing-masing. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاللهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ

“Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala melebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dalam hal rizki.” (An-Nahl: 71)
Demikianlah keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala Ar-Razzaq, dengan segala kekuasaan-Nya. Maka dari itu, sudah seyogyanya bagi seorang muslim untuk bersabar dan tidak putus asa dalam mencari rizki yang halal di tengah krisis ekonomi dan keterpurukan moral dewasa ini. Sebagaimana pula ia harus selalu bersyukur manakala usahanya (yang halal) membuahkan hasil sesuai harapan. Karena semua itu tak lepas dari kebijaksanaan dan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala Dzat Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana.

Penutup
Pembaca yang mulia, dari bahasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa:
1. Kehidupan dunia ini merupakan medan tempaan dan ujian (darul ibtila`) yang membutuhkan kesabaran yang tinggi.
2. Tempaan dan ujian itu beragam bentuknya. Bisa berupa ketakutan, kelaparan, kemiskinan, ditinggal wafat orang-orang yang dicintai, kekurangan bahan makanan, dan lain sebagainya.
3. Orang-orang yang mempunyai kesabaran tinggi di medan tempaan dan ujian itu, merekalah sejatinya golongan yang sukses di dunia dan akhirat.
4. Termasuk bagian dari kesabaran yang dapat mengantarkan seseorang kepada kesuksesan hidup adalah berpegang teguh dengan norma-norma agama di tengah hiruk pikuknya kehidupan mencari rizki, khususnya di tengah krisis ekonomi dan keterpurukan moral dewasa ini.
5. Di tengah hiruk pikuk itu ada berbagai macam jenis orang:
- Ada orang-orang yang ambisinya untuk menumpuk harta amat besar, sehingga segenap waktu dan umurnya habis dipergunakan untuk mengais rizki. Tak ayal jika aktivitasnya itu kemudian melalaikannya dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala (dzikrullah), shalat lima waktu dan kewajiban lainnya.
- Ada pula orang-orang yang gelap mata dan buta hati dalam mencari rizki. Mereka tak lagi memerhatikan halal haram, sehingga nyaris jiwa dan raganya (dan juga keluarganya) tumbuh dari harta syubhat bahkan dari harta haram.
- Ada pula orang-orang yang konsisten dalam menjaga jati dirinya sebagai insan yang bertakwa dengan selalu berupaya mencari rizki halal yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kelompok pertama dan kedua (di atas) merupakan orang-orang yang merugi lagi tertipu dengan kehidupan dunia yang fana ini. Adapun kelompok ketiga, merekalah orang-orang yang sukses lagi diberkahi kehidupannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
6. Mata pencaharian yang halal merupakan sumber/tonggak keberkahan hidup di dunia dan di akhirat. Sedangkan yang syubhat atau haram merupakan penghalang dari barakah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan penyebab tidak dikabulkannya sebuah doa. Maka dari itu, bila anda seorang pejabat (sipil/militer), jauhkanlah diri anda dari sumber-sumber rizki yang syubhat atau haram. Bila anda seorang da’i/mubaligh, janganlah menjual ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala demi meraih seonggok kehidupan dunia. Bila anda seorang pengusaha, jadilah pengusaha yang jujur. Bila anda seorang karyawan, sopir, kondektur, tukang becak, penjual asongan, tukang parkir, pelayan toko, dan lain sebagainya, jadikanlah rizki yang halal lagi barakah sebagai target dari usaha anda, dan jangan tergiur dengan jumlah yang banyak namun tak mendapat ridha dan barakah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
8. Bila anda telah berupaya mencari rizki yang halal lagi barakah namun belum mencukupi kebutuhan, maka janganlah berputus asa dan gelap mata. Yakinlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Pemberi Rizki (Ar-Razzaq), dan Dia tidak akan menyia-nyiakan para hamba yang mendekat kepada-Nya.Wallahu a’lam bish-shawab.(asyariah.com by
Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Lc)

Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal!”?

Islam tak Menghalalkan Segala Cara

Telah berlalu suatu masa yang diabadikan dalam sejarah sebagai masa jahiliah. Umat manusianya dilanda krisis keimanan dan haus akan siraman rohani. Perilakunya menyimpang dari norma-norma luhur dan agama yang suci. Lorong-lorong kehidupannya pun dikotori sampah-sampah kesyirikan dan kemaksiatan. Sementara pelita keimanan dan rambu-rambu akhlak mulia telah lama redup (di tengah mereka) bahkan tak menyisakan satu cahaya. Tak heran bila corak kehidupannya adalah persembahan ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, kebejatan akhlak dan dekadensi moral. Betapa pengap dan gelapnya lorong-lorong kehidupan di masa itu, sehingga membuat dada setiap orang yang melaluinya sesak lagi sempit.
Di kala umat manusia terenyak bingung dalam kegelapan dan kepengapan tersebut, terbitlah mentari kenabian Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bercahayakan Islam (dengan seizin Allah Subhanahu wa Ta’ala), menyinari segala kegelapan dan menghilangkan segala kepengapan dengan pancaran iman dan akhlak mulia yang terkandung dalam kitab suci Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ. يَهْدِي بِهِ اللهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari Al-Kitab yang kalian sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan (Al-Qur’an).

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 15-16)
Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah agama yang sempurna dan paripurna (tuntas). Syariatnya yang senantiasa relevan sepanjang masa benar-benar menyinari segala sudut kehidupan umat manusia. Tak hanya wacana keilmuan semata yang dipancarkannya, misi tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) dari berbagai macam akhlak tercela (amoral) pun berjalan seiring dengan misi keilmuan tersebut dalam mengawal umat manusia menuju puncak kemuliaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ. وَءَاخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Jumu’ah: 2-3)

Kewajiban Menyambut Agama Islam
Cahaya Islam yang terang-benderang dan syariatnya yang sempurna ini, amat dibutuhkan umat manusia sepanjang masa. Terbukti, orang-orang yang menyambutnya dan istiqamah di atasnya sangat berbeda keadaannya dengan orang-orang yang enggan atau bahkan berkesumat benci terhadapnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Maka apakah orang-orang yang Allah lapangkan dadanya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (Az-Zumar: 22)

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Apakah sama orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala lapangkan dadanya untuk (menyambut) agama Islam, siap menerima dan menjalankan segala hukum yang dikandungnya dengan penuh kelapangan, bertebar sahaja, dan di atas kejelasan ilmu (inilah makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “ia mendapat cahaya dari Rabbnya”), sama dengan selainnya?! Yaitu orang-orang yang membatu hatinya terhadap Kitabullah, enggan mengingat ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan berat hatinya untuk menyebut (nama) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan kondisinya selalu berpaling dari (ibadah kepada) Rabbnya dan mempersembahkan (ibadah tersebut) kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Merekalah orang-orang yang ditimpa kecelakaan dan kejelekan yang besar.” (Taisir Al-Karimirrahman hal. 668)

Maka dari itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mewasiatkan kepada para hamba-Nya agar masuk ke dalam agama Islam secara total (kaffah) dan menyambut seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana firman-Nya l:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (Al-Baqarah: 208)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan.” (Al-Anfal: 24)

Di antara misi Islam yang didakwahkan kepada umatnya adalah menanamkan sikap selektif dalam memilih mata pencaharian (yang merupakan bagian dari prinsip tazkiyatun nufus). Islam tak menghalalkan segala cara demi memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan semuanya diatur sedemikian rupa demi kebahagiaan mereka baik di dunia maupun di akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan; karena setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (Al-Baqarah: 168)

Fenomena Mengais Rezeki
Dunia mengais rezeki mengoleksikan aneka macam orang yang bergumul di sekeliling aneka macam mata pencaharian. Di antara mereka ada yang berpandangan bahwa waktu adalah uang. Ambisinya untuk menumpuk harta amat besar, sehingga segenap waktu dan umurnya hanya dipergunakan untuk mengais rezeki. Tak ayal, bila kesibukannya itu kemudian melalaikannya dari mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala (dzikrullah), shalat lima waktu maupun kewajiban lainnya. Tidakkah mereka ingat akan ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang serta dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat dari perbuatan mereka itu).” (Al-Hijr: 3)
Di antara mereka pun ada orang-orang yang gelap mata dan buta hati dalam mengais rezeki. Mereka tak lagi memerhatikan mana yang halal dan mana yang haram, sehingga nyaris jiwa dan raganya serta keluarganya tumbuh berkembang dari harta syubhat bahkan dari harta haram. Manakala diingatkan, tak jarang dari lisannya terlontar ungkapan kekesalan: “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal!” Wallahul musta’an.
Namun demikian, di antara mereka masih ada orang-orang baik yang tak terlalaikan dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ. لِيَجْزِيَهُمُ اللهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Orang-orang dari kaum lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi bergoncang (hari kiamat). (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (An-Nur: 37-38)
Adapun mata pencaharian yang mereka geluti; ada yang halal, ada yang syubhat, dan ada pula yang haram. Yang halal dicari, sedangkan yang syubhat dan yang haram wajib ditinggalkan. Di antara jenis yang haram adalah riba dengan segala bentuknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ. يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ. الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri (ketika dibangkitkan dari kuburnya, pen.) melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, disebabkan mereka (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Allah, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), urusannya (terserah) Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni An-Nar; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan shadaqah. Dan Allah tidak suka terhadap orang yang tetap di atas kekafiran dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, merekalah orang-orang yang mendapat pahala di sisi Rabb mereka. Tiada kekhawatiran pada diri mereka dan tiada (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian benar-benar orang yang beriman. Jika kalian masih keberatan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian. Dan jika kalian bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagi kalian pokok (modal) harta; kalian tidaklah menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Al-Baqarah: 275-279)
Demikian pula memakan harta orang lain dengan cara yang batil, terkhusus dalam arena jual beli atau yang selainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan yang berlaku di atas asas saling meridhai di antara kalian.” (An-Nisa’: 29)
Perjudian dengan sekian modelnya pun demikian adanya, menjadi jalan pintas ‘mengais rezeki’ yang haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkurban) untuk berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kalian mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kalian lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kalian dari mengingat Allah dan shalat; maka berhentilah kalian (dari perbuatan itu).” (Al-Ma’idah: 90-91)
Tak ketinggalan pula praktik penipuan, suap-menyuap, dan sejenisnya, yang terkadang demi meluluskan keinginan bejatnya itu ditempuh jalur hukum, dalam kondisi pelakunya sadar bahwa ia sedang berbuat aniaya terhadap sesamanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan jalan yang batil dan (janganlah) kalian membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kalian dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kalian mengetahui.” (Al-Baqarah: 188)

Belajar Dari Sebuah Fenomena
Berangkat dari fenomena di atas, patutlah dicamkan oleh setiap insan muslim bahwa mengais rezeki yang halal merupakan kewajiban setiap insan muslim. Sebagaimana pula mencari rezeki dengan cara syubhat atau haram merupakan perbuatan yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun, ketidaksabaran seseorang akan tempaan dan ujian yang menimpanya seringkali menjerumuskannya dalam murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dari itu, sangatlah penting bagi setiap muslim untuk mengimani bahwa rezeki itu datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki (Ar-Razzaq), yang kepunyaan-Nya lah seluruh perbendaharaan langit dan bumi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَهُ مَقَالِيدُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Kepunyaan-Nya lah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Asy-Syura: 12)
Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang keluasan kasih sayang-Nya membentangkan segala kemudahan bagi para hamba-Nya untuk mencari rezeki dan karunia-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا
“Dan Kami jadikan siang untuk mencari sumber penghidupan.” (An-Naba’: 11)

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللهِ وَاذْكُرُوا اللهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Apabila telah ditunaikan shalat (Jum’at), maka bertebaranlah kalian di muka bumi; dan carilah karunia (rezeki) Allah, dan ingatlah selalu kepada Allah agar kalian beruntung.” (Al-Jumu’ah: 10)
Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat Yang Maha Menentukan rezeki tersebut (dengan segala hikmah dan keilmuan-Nya) atas segenap makhluk-Nya, sesuai dengan bagiannya masing-masing. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ
“Dan Allah melebihkan sebagian kalian atas sebagian yang lain dalam hal rezeki.” (An-Nahl: 71)
Demikianlah keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala Ar-Razzaq (Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki) dengan segala kekuasaan-Nya. Maka sudah seyogianya bagi setiap insan muslim untuk bersabar dan tidak putus asa dalam mencari rezeki yang halal di tengah krisis ekonomi dan keterpurukan moral dewasa ini. Sebagaimana pula ia harus selalu bersyukur manakala usahanya (yang halal) membuahkan hasil sesuai harapan. Karena semua itu tak lepas dari kebijaksanaan dan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala Dzat Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana.
Tak kalah pentingnya, hendaknya setiap insan muslim menjadikan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini sebagai prinsip utama dalam segala upaya mencari rezeki. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْـمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْـمُرْسَلِيْنَ. فَقَالَ: {ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ }. فَقَالَ: {ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ }. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِِِ إِلَى السَّمَاءِ. يَا رَبِّ، يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik (Suci), tidaklah menerima kecuali sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada para Rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Hai para Rasul makanlah dari segala sesuatu yang baik dan beramal shalihlah, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan.’ (Al-Mukminun: 51) Dia juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman makanlah dari segala sesuatu yang baik, yang telah Kami rizkikan kepada kalian.’ (Al-Baqarah: 172) Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang seorang laki-laki yang sedang melakukan perjalanan jauh (safar), dalam kondisi rambutnya acak-acakan dan tubuhnya dipenuhi oleh debu, lalu menengadahkan tangannya ke langit (seraya) berdoa: Ya Rabbi! Ya Rabbi! sementara makanannya dari hasil yang haram, minumannya dari hasil yang haram, pakaiannya pun dari hasil yang haram dan (badannya) tumbuh berkembang dari hasil yang haram. Maka mana mungkin doanya akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala?!” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, hadits no. 1015 )
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata: “Seorang laki-laki (yang disebutkan dalam hadits di atas, pen.) mempunyai empat kriteria (mulia):
Pertama: Bahwasanya dia sedang melakukan perjalanan (safar) yang jauh, dan safar merupakan salah satu momentum dikabulkannya sebuah doa.
Kedua: Rambutnya acak-acakan dan tubuhnya dipenuhi oleh debu… Ini juga merupakan salah satu sebab dikabulkannya sebuah doa.
Ketiga: Menengadahkan tangannya ke langit. Ini pun merupakan salah satu sebab dikabulkannya sebuah doa.
Keempat: Dia berdoa dengan menyeru: Ya Rabbi! Ya Rabbi! yang merupakan tawassul dengan kekuasaan (rububiyyah) Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini pun salah satu sebab dikabulkannya sebuah doa.
Namun ternyata doanya tak dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena makanannya dari hasil yang haram, pakaiannya dari hasil yang haram, dan (badannya) pun tumbuh berkembang dari hasil yang haram.” (Diringkas dari Syarh Al-Arbain An-Nawawiyyah, karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu)
Subhanallah … Betapa besarnya pengaruh makanan, minuman, dan pakaian yang didapat dengan cara haram bagi kehidupan seseorang. Doa dan permohonannya tak lagi didengar oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu, kemanakah dia akan mengadukan berbagai problematikanya?! Dan kepada siapakah dia akan meminta perlindungan dan pertolongan?!
Betapa meruginya dia… Betapa sengsaranya dia… Manakala Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam ini telah berlepas diri darinya. Adakah yang mau mengambil pelajaran?!
Wallahu a’lam bish-shawab.
(assyariah.com by Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc)